Sore ini udara terasa sejuk, semilir angin berhembus disela sela alat gamelan yang tertata rapih di sebuah pendapa kecil di bilangan Cibubur . Bilah bilah saron menanti untuk ditabuh, gong besar bersiap untuk menggemakan suaranya yang berwibawa. Sekelompok ibu–ibu memilih untuk menghabiskan waktu sorenya. Bukan dengan “Ngopi cantik” tapi dengan memukul kenong, menabuh saron dan demung serta menyanyikan tembang Jawa. Mereka menamakan diri Nareswari - yang berarti Permaisuri (perempuan) yang luhur dan anggun, penjaga irama budaya yang nyaris dilupakan.

