Thursday, February 26, 2026

Nareswari : Nada yang Membangunkan Ingatan akan Karawitan Jawa

Sore ini udara terasa sejuk, semilir angin berhembus disela sela alat gamelan yang tertata rapih di sebuah pendapa kecil di bilangan Cibubur . Bilah bilah saron menanti untuk ditabuh, gong besar bersiap untuk menggemakan suaranya yang berwibawa. Sekelompok ibu–ibu memilih untuk menghabiskan waktu sorenya. Bukan dengan “Ngopi cantik” tapi dengan memukul kenong, menabuh saron dan demung serta menyanyikan tembang Jawa. Mereka menamakan diri Nareswari - yang berarti Permaisuri (perempuan) yang luhur dan anggun, penjaga irama budaya yang nyaris dilupakan.


  

                                                                      Pendapa Cibubur
 

Latar Belakang Terbentuknya Nareswari

Berdiri pada tanggal 25 September 2025 di Pendapa Cibubur, Nareswari merupakan komunitas karawitan Jawa  yang terdiri dari ibu–ibu pecinta seni dan penggiat budaya. Nareswari dibentuk bukan semata untuk tampil di panggung, tetapi komunitas ini lahir dari kerinduan akan suasana kebersamaan dan keinginan untuk nguri-uri kabudayan (melestarikan budaya). Nama Nareswari sendiri mencerminkan filosofi kelembutan perempuan yang menjaga harmoni.

Dalam numerologi, Nareswari memiliki Angka 1 yang melambangkan kepemimpinan, inovasi dan individualitas. Cenderung memiliki sifat yang berani, mandiri dan percaya diri. Seperti itulah Nareswari ingin menempatkan diri sebagai wadah bagi ibu-ibu untuk menjadi pelopor yang siap untuk mengambil inisiatif dan langkah kongkrit dalam melestarikan seni budaya karawitan Jawa di Indonesia.



Nareswari

Dibawah asuhan bapak Gatot Djuwito S. Sn., seorang maestro gamelan Jawa yang kerap disapa pak Gethuk, komunitas ini mulai mengambil perannya sebagai penjaga kebudayaan. Pak Gethuk bukanlah penggiat seni biasa, beliau adalah maestro penggubah (Composerrepertoar-repertoar gendhing yang sudah terkenal di dunia karawitan. Beliau sudah berpuluh-puluh tahun berkiprah dibidang ini, yang juga telah membawanya melanglang buana ke seluruh penjuru dunia untuk memperkenalkan seni budaya karawitan.

 
                                                                      Mr. Gethuk

Beliau tidak hanya melestarikan seni karawitan sesuai pakemnya, lebih dari itu beliau menambahkan berbagai inovasi dalam seni karawitan itu sendiri. Beliau menciptakan berbagai repertoar baru, baik dalam gendhing maupun tarian yang merupakan bidang keahliannya. Pada akhirnya karya-karya ini menjadi tambahan kekayaan pada dunia seni karawitan itu sendiri. Ini adalah sebuah langkah maju dalam pelestarian budaya.

 

Kegiatan dan Proses Belajar Karawitan

Dibalik semua cita–cita luhur dan aksi nyata tersebut, proses belajar komunitas ini tidak mudah. Bagi mereka yang usia nya sudah tidak lagi dapat dibilang muda, seperti ibu–ibu ini. Mempelajari suatu hal yang baru tentu saja membutuhkan waktu dan usaha yang lebih. Tetapi dengan disiplin dan kemauan yang keras, sudah banyak repertoar yang mereka kuasai bersama. Ini bukanlah sebuah proses yang mudah dan cepat, ini adalah proses yang membutuhkan keikhlasan dari hati.


    
Suasana Belajar di Pendapa Cibubur


Mereka ini hanyalah ibu–ibu biasa dengan latar belakang yang berbeda–beda. Yang menyempatkan diri disela – sela waktu mereka untuk berkumpul bersama setiap minggu nya. Berkumpul untuk belajar menabuh repertoar gending yang digubah oleh pengrawit senior, Bapak Gethuk. Bukan penabuh professional tentunya, hanya kecintaan terhadap bilah – bilah perunggu ini yang mengikat mereka bersama.

Dengan arahan pak Gethuk, ibu–ibu ini dapat membawakan repertoar tersebut dengan cukup baik, meski ini bukan repertoar biasa. Siapa yang tidak kenal pak Gethuk dengan berbagai gubahan Lagon nya yang selalu out of the box. Perlahan mendayu menusuk kalbu lalu kemudian berlari kencang dan melesat menembus awan untuk kembali menukik menjejak bumi. Kadang rancak menghentak, mengajak tubuh dan jiwa berdendang.



                                                            Makan Siang Bersama

Dibalik denting yang mendayu indah itu, tak satupun yang lepas dari dinamika khas ibu–ibu. Sudah bukan rahasia lagi kalau dibutuhkan kesabaran yang seluas samudra dan toleransi yang selebar jagad untuk menghadapi ibu–ibu paruh baya ini. Protes–protes kecil soal kepanasan, partiture yang sulit dibaca karena kekecilan, tabuhan yang terlalu cepat atau terlalu pelan. Bahkan ada juga yang tidak nabuh–nabuh, karena bingung. Semua itu adalah hal–hal yang jamak terjadi disetiap waktu latihan.

“Yang sering disampaikan pak Gethuk, setiap tabuhan mengajarkan kesabaran,” ujar salah satu anggota Nareswari. “Kami belajar mendengar satu sama lain. Kalau salah satu terburu-buru, irama jadi rusak. Sama seperti dalam rumah tangga, semua harus selaras.”

Ini lah proses pembelajaran yang harus mereka lalui bersama, oleh para penabuh maupun pengajarnya. Dibalik tabuhan yang lembut, tersimpan pesan tentang nilai-nilai yang muncul dari proses tersebut: tepa seliragotong royongtata krama, serta disiplin rasa.

 

Filosofi di Balik Karawitan Bagi Nareswari

Nareswari tumbuh menjadi ruang bagi perempuan untuk berekspresi, bersahabat, sekaligus belajar tentang filosofi kehidupan Jawa. Dari gamelan, ibu–ibu ini belajar bahwa setiap nada punya tempatnya sendiri, sama seperti berbagai hal dalam kehidupan berumah tangga.

Setiap pekan mereka berkumpul — ada yang membawa bekal makanan, ada yang datang bersama anak/cucu. Suasana hangat selalu mengiringi latihan. Suara saron, kenong, dan gong berpadu dalam harmoni disertai tawa, candaan dan kesabaran dalam mencari nada yang tepat. Tak jarang, di sela-sela latihan, mereka saling berbagi kisah keluarga dan kehidupan sehari-hari. Dari sinilah karawitan menjadi lebih dari sekadar musik; ia menjelma menjadi ruang pembelajaran rasa.

Mereka harus menjaga keseimbangan antara peran mereka di rumah sebagai seorang ibu dengan peran mereka di dalam komunitas ini sendiri. Sesekali intermezzo dari rumah mejadi prioritas utama, seperti time out untuk menerima telpon dari si kecil. Yah, mereka adalah juga seorang ibu yang keberadaannya akan selalu dicari oleh orang rumah. Selalu saja ada interupsi-interupsi yang patut ditertawakan dan dimaklumi. Pada akhirnya, menjaga keseimbangan ini adalah suatu hal yang penting.

Bagi para anggota, karawitan bukan sekadar hobi melainkan cara menjaga keseimbangan batin. Dalam setiap gendhing, mereka menemukan makna ketulusan, ketertiban, dan kebersamaan. Di tangan mereka, gamelan tidak hanya berbunyi, tapi berdenyut — menghidupkan kembali rasa yang lama terlupa.

 

Irama yang Tak Pernah Padam

Meski usia komunitas ini masih terbilang sangat muda, Nareswari telah merencanakan untuk tampil dalam berbagai acara budaya. Mereka sedang menyusun agenda acara rutin di pendapa tempat mereka berlatih, untuk memperkenalkan seni karawitan Jawa, seni tari dan wayang.

Memanfaatkan kemajuan teknologi dan media sosial adalah salah satu kendaraan yang akan digunakan dalam mempromosikan “Gelar Budaya” ini. Ke depannya berbagai kegiatan seperti mengisi workshopsarasehan bahkan kolaborasi adalah sarana yang dibidik untuk berbagi semangat pelestarian dengan generasi muda.


                                                                     Nareswari

Nareswari menjadi bukti bahwa budaya tidak akan punah selama ada cinta yang terus menghidupkannya. Dari pendapa kecil tempat Nareswari berlatih, suara gamelan mengalun lembut — bukan sekadar nada, tetapi doa agar generasi mendatang masih mengenal makna Wiraga, wirasa, lan wirama.

Karena selama ibu-ibu masih menabuh gamelan dengan hati, Jawa tak akan pernah sunyi. Dan Nareswari menjadi saksi bahwa menjaga budaya bisa dimulai dari langkah sederhana: berkumpul, berlatih, dan mencintai.

 

#Nareswari #KarawitanJawa #BudayaNusantara #NguriUriBudaya #IbuIbuJawa #Gamelan #PerempuanDanBudaya


No comments:

Post a Comment