Saturday, June 21, 2025

100 Hari Kembali Menulis: Jejak Kecil yang Ingin Kutinggalkan di Dunia



Hari ini tepat seratus hari sejak aku pertama kali menancapkan ide untuk mulai belajar menulis, dikepala ku. Berbeda dengan tahun - tahun sebelumnya, yang diam - diam selalu menghadiahi diriku dengan materi, tahun ini aku menghadiahi diriku sendiri dengan tekad itu. Dan sejak saat itu mulailah perjalanan baruku dalam hidup ini, dengan harapan dapat meninggalkan sedikit jejak tentangku dimasa kini.

Ditengah lompatan budaya yang luar biasa cepat ini, perasaan insecure sedikit mengintip didalam diri. Yang terbersit kemudian adalah aku harus kembali keawal. Kebagian pertama hidupku, maka kembali lah aku ke akar, dimana semua hal adalah baru bagiku. Tak sengaja mencoba berbagai hal yang ternyata menyenangkan. Dan jika kembali kuingat, menulis adalah salah satu bagian dari fase pertama hidupku.

Refleksi hidup, semangat baru, dan menata ulang tujuan setelah usia lima puluhan

Menulis bukanlah sebuah hal yang baru bagiku, dulu sekali aku masih suka menulis karena ingin tahu saja. Lebih sering menulis dibuku diary yang terkunci rapat, karena takut dibaca orang ha ha…. Lalu mulai merambat menulis puisi sedikit – sedikit. Pernah juga mengikuti beberapa lomba dan alhamdulillah menang. Tapi semua itu tidak bertahan lama, menulis diary tergantikan dengan menulis tugas - tugas sekolah lalu essay sampai thesis. Membuat puisi tergantikan dengan menonton film dan lagu – lagu pop jaman itu. Mungkin itu hasil dari perkembangan jaman, banyak hal yang kemudian terlupakan.

Sekarang, sepertinya aku harus memulai banyak hal baru lagi, belajar untuk bisa beradaptasi dengan dunia yang kian hari kian membingungkan. Sama seperti dulu meski sedikit berbeda, sepertinya aku  harus kembali menulis agar otak ini bisa kembali berputar dengan semestinya. Dan untuk melawan lupa yang sudah jelas akan mulai menggerogoti diri ini yang sudah tak lagi bisa dibilang muda.

Dalam perjalanan ku selama seratus hari ini, ternyata banyak hal yang makin membingungkan. Makin tidak mengerti dan makin membutuhkan penelusuran lebih dalam. Ternyata menulis dijaman ini tidak semudah yang kuduga ya Ferguzo…. Ha ha…. Tetap semangat!!

Jika dulu tujuan ku menulis hanya karena ingin dan mencoba, maka kali ini tujuan ku menulis selain menajamkan otak, lebih kepada keinginan untuk berdampak bagi sesama. Bagaimana tulisan – tulisan ini menjadi sebuah cerita yang dapat dipetik hikmahnya. Insyaallah dapat memberikan sedikit pencerahan. Tapi jikapun tidak, maka ku berharap tulisan ini dapat menjadi pengingat bagi anak cucu ku, tentang aku yang pernah ada di masa kini. Mungkin ini sebuah cara untukku memahami ulang kehidupan.

Tentang komunitas, tulisan, dan menemukan versi terbaik dari diri sendiri


Hari ini aku merasa harus mengapresiasi diriku sendiri, dalam seratus hari terakhir ini aku sudah ikut menulis di empat buku Antologi, tidak pernah terbayangkan tentunya. Merasa cukup percaya diri untuk menyandingkan tulisan ku dengan puluhan penulis lain di dalam buku – buku itu. Meski hanya perasaanku saja, tapi ini cukup menambah semangat untuk menapaki petualangan ini dengan lebih giat. Menulis buku Antologi bukanlah sebuah hal yang aku pikirkan diawal, tapi setelah mencari akhirnya aku menemukannya. Jadi, aku akan terus mencari hal – hal baru di dunia penulisan ini. Seperti membuka kotak pandora sedikit demi sedikit.

Bertemu dengan komunitas penulis seperti Indscript Creative, dimana aku banyak belajar tentang cara – cara menulis sebagai pemula, adalah suatu hal yang patut aku syukuri. Dari sana aku pun diarahkan untuk mulai membuat blog, yang umurnya tentu saja belum sampai seratus hari. Berwadahkan blog ini, aku sudah menulis beberapa artikel yang aku suka. Aku berharap tulisanku bisa bermanfaat bagi yang membacanya meski sedikit. Untuk pemula seperti aku yang mood nya sering kali naik turun ini, komunitas Indscript Creative banyak membantu sebagai penyemangat dan tentu saja pembimbing agar aku tetap berada dalam ke konsistensian. Tempat berlindung dari diri sendiri yang sering tiba – tiba menyabotase tujuan – tujuan awal.

Mungkin belum seperti ratusan penulis disana yang penuh dengan semangat, tapi paling tidak aku ingin semangat mereka menular ke diriku. Mencoba menyerap energy – energy positif dari setiap tulisan mereka. Belajar Teknik sudah pasti, karena mereka adalah master – master penulis yang sudah makan asam dan garamnya dunia penulisan. Suhu yang tepat bagiku untuk menggali ilmu dan teman untuk berjalan bersama.

Usia bukan penghalang untuk mulai kembali dan bertumbuh.


Jadi hari ini, tanggal 21 Juni 2025, tepat 100 hari sejak hari ulang tahun terakhir. Sejak usia sudah mulai mengaburkan mata dan mulai menghapus sedikit ingatan. Aku menulis—bukan untuk menjadi hebat, tapi agar tak lupa caranya merasa. Agar jemari ini tak lagi meragu untuk berdampak.

Aku ingin berterima kasih kepada diriku sendiri, yang sudah mulai meninggalkan jejak di masa kini. Meski masih sedikit, tapi aku pastikan jejak itu akan semakin panjang. Cukup panjang hingga menjangkau hati orang – orang yang membacanya. Cukup jauh untuk bisa memberikan sedikit pencerahan bagi orang – orang yang mungkin mencari setitik cahaya di dunia yang tak pernah berhenti membingungkan ini. 

Cheers to a hundred days….


#MenulisSetelah50 #HidupDimulaiSetelah50 #PerjalananMenulis #100HariMenulis #RefleksiDiri #UsiaBukanHalangan #MenemukanDiri #BelajarSepanjangUsia #MulaiDariNolLagi #KembaliMenulis

No comments:

Post a Comment