Wednesday, June 4, 2025

Kisah Anak Sukses : Pelajaran Berharga untuk Anak dan Orang Tua

 



Kegagalan bukan akhir dari segalanya. Itu adalah quote atau judul buku atau nasehat singkat selewat yang dari jaman rikiplik sudah sering seliweran di setiap nasehat atau billboard iklan. Singkat tapi dalem, sangking dalemnya kadang sampe males menyelaminya. Tidak lekang oleh waktu, karena pasti ada saja orang yang menghibur “si gagal” dengan kata – kata itu. Tampaknya kegagalan memang hal yang rutin terjadi dan milik sejuta umat. “Ya kaaali harus sukses terus, gagal sekali kali ga pa pa juga kan ya….”ini kata saya loh ya… hi hi
Menghadapi kegagalan tidak semudah itu ferguso…., butuh pengalaman dan jam terbang yang tinggi untuk bisa merangkulnya. Dan jika beruntung, semakin banyak pengalaman gagal maka makin dekat dengan kemampuan merangkulnya. Ini ilmu mahal yang susah dicari di dalam kursusan, masak iya ada kursus yang ngajarin gimana gagal? Hmm… mungkin sebentar lagi ada

Semalam, waktu aku masih sibuk dengan obrolan malam seputar kerjaan dengan client. Ada beberapa missed call dari anakku. Kenapa ni? Tumben banget telp, biasanya kalo ga minta ijin beli sesuatu, ya minta tambahan kiriman duit. Maklum anak kos…

Telepon Tengah Malam yang Menggetarkan

Tapi tidak malam ini, begitu telpon diangkat, terdengar isak tangis yang ditahan. Langsung panic mode berfungsi…. “Kenapa ka? Ka…. Halo ka… kenapa kah?” tetap mencoba tenang dengan suara yang santai, sementara hati sudah dag dig dug. Langsung nyolek ayahnya yang kebetulan lagi duduk disebelah. “nangis…” bisik ku, ayahhnya pun langsung siaga satu. Workshop online yang akan dimulai dalam sepuluh menit, terpaksa di switch off dulu…. Hadeuhh…. horor ini....

“Aku ga lulus kelas pro, baru tadi pengumumannya” sambal terbata – bata dia berusaha menjelaskan. Ya, kami semua memang sedang menunggu kabar untuk si kelas pro ini. Kelas professional ini adalah kelas yang benar – benar ingin diikuti anakku, karena dengan masuk kelas ini maka dia dapat memotong masa study nya sebanyak satu tahun. Peluang masuk ke industry yang dia inginkan pun menjadi lebih besar. Pokoknya ini kelas yang super duper bagus lah bagi dia. Tapi, setelah usaha keras yang dia telah lakukan sebelumnya, tetap harus kandas. Kenyataan berkata lain.

Kaget? Ya kaget juga lah kami berdua, karena kami membersamai dan melihat bagaimana usaha dia selama ini dalam mempersiapkan ujian yang bertangga. Dua tahap seleksi sudah dia lalui, hanya tinggal tahap terakhir yaitu wawancara yang durasinya hanya sepuluh menit saja. Dan dia jatuh terbanting ke level “Mohon maaf, anda belum beruntung”. Kami yang tidak berkepentingan langsung pun cukup shok mendengarnya, bagaimana dia ya? 

Kamu Hebat Anak ku...

Tapi begitulah dunia ini, sebagaimana besar usaha kita, masih banyak yang berusaha lebih besar. Sekuat apapun kita berdoa dan meminta kepada Allah SWT, masih banyak orang yang berdoa lebih kencang dengan hati dan jiwa nya. Sebutuh apapun kita, masih banyak orang lain yang membutuhkannya, dan Allah SWT sungguh lebih mengetahui semua itu.

“Jadi, apakah saya kurang baik dalam bidang ini? Apakah saya harus merubah arah?” itu sambatannya anakku. Jika itu adalah pertanyaannya, maka jawaban dari pertanyaan pertama adalah, mohon maaf, iya kamu masih kurang baik dibanding 20 orang yang lolos seleksi. Dia mungkin perlu belajar lebih banyak untuk bisa eksis di bidang ini. Harus di evaluasi lagi apa yang kurang, jika gagal di wawancara, maka mungkin Teknik presentasi dan public speaking nya yang kurang. Banyak hal yang mempengaruhi kegagalan ini, maka harus dilihat secara utuh. Tidak bisa juga langsung memutuskan kurang baik dalam bidang akademisnya. Mungkin bukan itu.

Menjawab pertanyaan kedua, mungkin iya mungkin tidak. Harus lebih banyak data dan pengalaman gagal atau sukses untuk memutuskan hal ini. Anak ku baru duduk di bangku kuliah, tahun  depan adalah tahun terakhirnya, selama ini nilai – nilai yang berhubungan dengan bidangnya cukup baik. Tidak bisa dibilang fantastic, tapi diatas rata – rata kelas. Sebagai anak seni, karya - karya lukisannya sudah banyak berkembang dan dinilai lebih dari rata - rata. Dosen nya pun mengatakan kalau dia mahasiswa yang baik dan berpotensi. Dan seperti kita ketahui bersama, penilaian untuk karya seni ini sangat subyektif karena melibatkan rasa selain teknik. Sangat berbeda dengan bidang akademis eksak lainnya.

Memang mata kuliah lain, bahasa khususnya, nilainya bisa fantastic dan hampir sempurna. Tapi apakah itu menyimpulkan bahwa dia salah jurusan? Harusnya masuk jurusan Bahasa saja barangkali. Kalau mau menyingkat proses pembelajaran dan evaluasi, ya bisa saja. Dari SMA nya juga sudah kelihatan kalau dia kuat dibahasa, guru - guru nya pun sudah mengatakan begitu. Sekarangpun dia sudah menguasai dan teruji untuk dua bahasa asing dan sedang on the way ke bahasa ketiga. Beberapa bahasa lain sudah dia pelajari sendiri meski tidak dalam level menguasai.

Belajar memilih yang baik

Kembali lagi ke salah jurusan atau tidak. Anak ku cinta ku, berpikir lah dengan lebih jernih dan dalam keadaan tenang. Hari ini  cukup menangis sepuasnya, cukup menyesali diri semau – maunya. Rasakan kesedihan itu sesedih – sedihnya, monggo silahkan. Cukup satu hari? Jika tidak cukup, masih ada besok dan besoknya lagi. Tapi ingat ya, lusa kamu ada dance performance, jadi kalo lagi performe sedihnya disimpen dulu saja ya. Ingat juga minggu depan masih ada remedial test yang harus diikuti kan? Selesaikan tugas2 nya dengan baik, supaya nilainya nya jadi lebih bagus. Lulus sudah pasti lulus, tapi tinggi rendah nilai itu penting.

Nah, ini itu bukti bahwa dunia tidak akan berhenti dengan kita menyesali diri sendiri dan bersedih berkepanjangan. Hidup tetap berjalan, acara pertunjukan tetap berlangsung. Make up test tetap ada, tidak bisa mundur sehari pun. Date line tugas juga masih fix tak tergoyahkan. Teman – teman yang sedang santai dengan summer holiday pun masih tetap santai, tidak ikutan sedih. Lalu kenapa karena satu kegagalan ini, seseorang kemudian mempertanyakan kemampuan diri nya sendiri?

Kemampuan kita adalah berkat dari Allah SWT yang masih terus diuji dari segala sisi. Tidak hanya kemampuan akademis, tapi juga kemampuan menerima kesuksesan dan kegagalan. Kegagalan mengajarkan ketahanan mental (resilience), kemampuan berpikir jernih dalam tekanan, dan fleksibilitas dalam membuat keputusan—semuanya adalah soft skill penting dalam hidup yang jarang diajarkan secara formal.

Kisah kegagalan ini hanya sebagian kecil dari kemampuan menguasai soft skill. Bagaimana kita bersikap ketika ada tantangan di depan kita, strategi apa yang harus kita pilih untuk mengubah keadaan. Mental yang kuat untuk kembali mencoba setelah memperbaiki dan mempersiapkan segala sesuatunya dengan lebih baik.

Jadi, mau pindah jurusan atau tidak, itu adalah pilihan. Harus datang dari diri kita sendiri tanpa perintah dari  orang lain. Termasuk orang tua, bukan porsi kami untuk menginstruksikan apakah anak kami harus tetap di jurusan ini atau pindah ke jurusan lain. Kami hanya boleh dan hanya bisa menjaga batasnya saja. Silahkan kamu bermain dalam interfal kebebasan mu, tentu saja dengan didasari analisa yang tepat dan kuat seperti yang selalu kita diskusikan bersama.

Pesan Untuk Kakak

So… to my dear dear baby Tania…… ingatlah kejadian hari ini seingat - ingatnya. Lalu jadikan ini pengalaman berharga dan motivasi agar bisa berkarya lebih baik lagi. Gagal Itu Biasa, Tapi Bangkit Itu Luar Biasa. Jangan ragu untuk mengulang pertempuran yang sama tahun depan. Tapi persenjatai dirimu dengan lebih baik lagi, ketahui semua kelemahan mu dan cari lah ilmu untuk melengkapi nya. Jika ternyata pertempuran tahun depan masih bukan milikmu, maka carilah lahan pertempuran lain yang lebih besar peluang kemenangannya. Tapi, Bunda percaya pertempuranmu yang berikutnya akan membawa kemenangan dan kesuksesan, karena kamu ditakdirkan untuk sukses. Allah SWT hear and be with you always…

Penutup : Gagal Itu Milik Semua Orang, Bangkit Itu Pilihan

Menghadapi kegagalan anak memang bukan hal mudah. Tapi ini adalah kesempatan emas bagi orang tua untuk hadir, memahami, dan membimbing anak dalam proses pendewasaan yang sesungguhnya.

Gagal itu manusiawi. Tapi kemampuan merangkul kegagalan dan menjadikannya pijakan untuk tumbuh, itulah pelajaran paling berharga dalam hidup—baik untuk anak, maupun untuk kita sebagai orang tua.


#ParentingIndonesia #AnakGagalBukanAkhir #KegagalanAdalahPelajaran #ParentingZamanNow #IbuDanAnak #SupportYourChild #BelajarDariGagal #SoftSkillPenting #KisahParenting #MentalHealthAnak #ResiliensiAnak #MotivasiAnak #AnakSeni #OrangTuaBijak #KisahIbuDanAnak #ParentingRemaja #KisahNyataParenting


No comments:

Post a Comment