Kegagalan bukan akhir dari segalanya. Itu adalah quote atau judul buku atau nasehat singkat selewat yang dari jaman rikiplik sudah sering seliweran di setiap nasehat atau billboard iklan. Singkat tapi dalem, sangking dalemnya kadang sampe males menyelaminya. Tidak lekang oleh waktu, karena pasti ada saja orang yang menghibur “si gagal” dengan kata – kata itu. Tampaknya kegagalan memang hal yang rutin terjadi dan milik sejuta umat. “Ya kaaali harus sukses terus, gagal sekali kali ga pa pa juga kan ya….”ini kata saya loh ya… hi hi
Semalam, waktu aku masih sibuk
dengan obrolan malam seputar kerjaan dengan client. Ada beberapa missed
call dari anakku. Kenapa ni? Tumben banget telp, biasanya kalo ga minta
ijin beli sesuatu, ya minta tambahan kiriman duit. Maklum anak kos…
Telepon Tengah Malam yang Menggetarkan
Tapi tidak malam ini, begitu telpon diangkat, terdengar isak tangis yang ditahan. Langsung panic mode berfungsi…. “Kenapa ka? Ka…. Halo ka… kenapa kah?” tetap mencoba tenang dengan suara yang santai, sementara hati sudah dag dig dug. Langsung nyolek ayahnya yang kebetulan lagi duduk disebelah. “nangis…” bisik ku, ayahhnya pun langsung siaga satu. Workshop online yang akan dimulai dalam sepuluh menit, terpaksa di switch off dulu…. Hadeuhh…. horor ini....
“Aku ga lulus kelas pro, baru
tadi pengumumannya” sambal terbata – bata dia berusaha menjelaskan. Ya, kami
semua memang sedang menunggu kabar untuk si kelas pro ini. Kelas professional ini
adalah kelas yang benar – benar ingin diikuti anakku, karena dengan masuk kelas
ini maka dia dapat memotong masa study nya sebanyak satu tahun. Peluang masuk
ke industry yang dia inginkan pun menjadi lebih besar. Pokoknya ini kelas yang
super duper bagus lah bagi dia. Tapi, setelah usaha keras yang dia telah
lakukan sebelumnya, tetap harus kandas. Kenyataan berkata lain.
Kaget? Ya kaget juga lah kami berdua, karena kami membersamai dan melihat bagaimana usaha dia selama ini dalam mempersiapkan ujian yang bertangga. Dua tahap seleksi sudah dia lalui, hanya tinggal tahap terakhir yaitu wawancara yang durasinya hanya sepuluh menit saja. Dan dia jatuh terbanting ke level “Mohon maaf, anda belum beruntung”. Kami yang tidak berkepentingan langsung pun cukup shok mendengarnya, bagaimana dia ya?
Kamu Hebat Anak ku...
Tapi begitulah dunia ini, sebagaimana
besar usaha kita, masih banyak yang berusaha lebih besar. Sekuat apapun kita
berdoa dan meminta kepada Allah SWT, masih banyak orang yang berdoa lebih
kencang dengan hati dan jiwa nya. Sebutuh apapun kita, masih banyak orang lain
yang membutuhkannya, dan Allah SWT sungguh lebih mengetahui semua itu.
“Jadi, apakah saya kurang baik
dalam bidang ini? Apakah saya harus merubah arah?” itu sambatannya anakku. Jika
itu adalah pertanyaannya, maka jawaban dari pertanyaan pertama adalah, mohon
maaf, iya kamu masih kurang baik dibanding 20 orang yang lolos seleksi. Dia mungkin
perlu belajar lebih banyak untuk bisa eksis di bidang ini. Harus di evaluasi
lagi apa yang kurang, jika gagal di wawancara, maka mungkin Teknik presentasi
dan public speaking nya yang kurang. Banyak hal yang mempengaruhi kegagalan
ini, maka harus dilihat secara utuh. Tidak bisa juga langsung memutuskan kurang
baik dalam bidang akademisnya. Mungkin bukan itu.
Menjawab pertanyaan kedua, mungkin iya mungkin tidak. Harus lebih banyak data dan pengalaman gagal atau sukses untuk memutuskan hal ini. Anak ku baru duduk di bangku kuliah, tahun depan adalah tahun terakhirnya, selama ini nilai – nilai yang berhubungan dengan bidangnya cukup baik. Tidak bisa dibilang fantastic, tapi diatas rata – rata kelas. Sebagai anak seni, karya - karya lukisannya sudah banyak berkembang dan dinilai lebih dari rata - rata. Dosen nya pun mengatakan kalau dia mahasiswa yang baik dan berpotensi. Dan seperti kita ketahui bersama, penilaian untuk karya seni ini sangat subyektif karena melibatkan rasa selain teknik. Sangat berbeda dengan bidang akademis eksak lainnya.
Memang mata kuliah lain, bahasa khususnya,
nilainya bisa fantastic dan hampir sempurna. Tapi apakah itu menyimpulkan bahwa
dia salah jurusan? Harusnya masuk jurusan Bahasa saja barangkali. Kalau mau
menyingkat proses pembelajaran dan evaluasi, ya bisa saja. Dari SMA nya juga
sudah kelihatan kalau dia kuat dibahasa, guru - guru nya pun sudah mengatakan
begitu. Sekarangpun dia sudah menguasai dan teruji untuk dua bahasa asing dan
sedang on the way ke bahasa ketiga. Beberapa bahasa lain sudah dia pelajari sendiri meski
tidak dalam level menguasai.
Belajar memilih yang baik
Kembali lagi ke salah jurusan
atau tidak. Anak ku cinta ku, berpikir lah dengan lebih jernih dan dalam
keadaan tenang. Hari ini cukup menangis
sepuasnya, cukup menyesali diri semau – maunya. Rasakan kesedihan itu sesedih –
sedihnya, monggo silahkan. Cukup satu hari? Jika tidak cukup, masih ada besok
dan besoknya lagi. Tapi ingat ya, lusa kamu ada dance performance, jadi
kalo lagi performe sedihnya disimpen dulu saja ya. Ingat juga minggu
depan masih ada remedial test yang harus diikuti kan? Selesaikan tugas2
nya dengan baik, supaya nilainya nya jadi lebih bagus. Lulus sudah pasti lulus,
tapi tinggi rendah nilai itu penting.
Nah, ini itu bukti bahwa dunia
tidak akan berhenti dengan kita menyesali diri sendiri dan bersedih
berkepanjangan. Hidup tetap berjalan, acara pertunjukan tetap berlangsung. Make
up test tetap ada, tidak bisa mundur sehari pun. Date line tugas juga masih
fix tak tergoyahkan. Teman – teman yang sedang santai dengan summer holiday
pun masih tetap santai, tidak ikutan sedih. Lalu kenapa karena satu kegagalan
ini, seseorang kemudian mempertanyakan kemampuan diri nya sendiri?
Kemampuan kita adalah berkat dari Allah SWT yang masih terus diuji dari segala sisi. Tidak hanya kemampuan akademis, tapi juga kemampuan menerima kesuksesan dan kegagalan. Kegagalan mengajarkan ketahanan mental (resilience), kemampuan berpikir jernih dalam tekanan, dan fleksibilitas dalam membuat keputusan—semuanya adalah soft skill penting dalam hidup yang jarang diajarkan secara formal.
Kisah kegagalan ini hanya sebagian kecil dari
kemampuan menguasai soft skill. Bagaimana kita bersikap ketika ada
tantangan di depan kita, strategi apa yang harus kita pilih untuk mengubah
keadaan. Mental yang kuat untuk kembali mencoba setelah memperbaiki dan
mempersiapkan segala sesuatunya dengan lebih baik.
Jadi, mau pindah jurusan atau
tidak, itu adalah pilihan. Harus datang dari diri kita sendiri tanpa perintah
dari orang lain. Termasuk orang tua,
bukan porsi kami untuk menginstruksikan apakah anak kami harus tetap di jurusan
ini atau pindah ke jurusan lain. Kami hanya boleh dan hanya bisa menjaga
batasnya saja. Silahkan kamu bermain dalam interfal kebebasan mu, tentu saja
dengan didasari analisa yang tepat dan kuat seperti yang selalu kita diskusikan
bersama.
Pesan Untuk Kakak
So… to my dear dear baby Tania……
ingatlah kejadian hari ini seingat - ingatnya. Lalu jadikan ini pengalaman
berharga dan motivasi agar bisa berkarya lebih baik lagi. Gagal Itu Biasa, Tapi Bangkit Itu Luar Biasa. Jangan ragu untuk
mengulang pertempuran yang sama tahun depan. Tapi persenjatai dirimu dengan
lebih baik lagi, ketahui semua kelemahan mu dan cari lah ilmu untuk melengkapi
nya. Jika ternyata pertempuran tahun depan masih bukan milikmu, maka carilah lahan
pertempuran lain yang lebih besar peluang kemenangannya. Tapi, Bunda percaya
pertempuranmu yang berikutnya akan membawa kemenangan dan kesuksesan, karena
kamu ditakdirkan untuk sukses. Allah SWT hear and be with you always…
Penutup : Gagal Itu Milik Semua Orang, Bangkit Itu Pilihan
Menghadapi kegagalan anak memang bukan hal mudah. Tapi ini adalah kesempatan emas bagi orang tua untuk hadir, memahami, dan membimbing anak dalam proses pendewasaan yang sesungguhnya.
Gagal itu manusiawi. Tapi kemampuan merangkul kegagalan dan menjadikannya pijakan untuk tumbuh, itulah pelajaran paling berharga dalam hidup—baik untuk anak, maupun untuk kita sebagai orang tua.
#ParentingIndonesia #AnakGagalBukanAkhir #KegagalanAdalahPelajaran #ParentingZamanNow #IbuDanAnak #SupportYourChild #BelajarDariGagal #SoftSkillPenting #KisahParenting #MentalHealthAnak #ResiliensiAnak #MotivasiAnak #AnakSeni #OrangTuaBijak #KisahIbuDanAnak #ParentingRemaja #KisahNyataParenting

No comments:
Post a Comment