Aku baru saja melihat iklan di Instagram tentang pertunjukan theater Musikal berjudul "Mama Mia" di Jakarta. Ingatanku langsung tertuju pada lagu ciptaan grup penyanyi tahun 70an, "ABBA" dan tentu saja film layar lebar yang sangat terkenal beberapa waktu lalu dengan judul yang sama, diperankan oleh Meryl Streep. Film ini selalu membuat aku menangis pada akhirnya. Terutama pada saat lagu "Slipping through my fingers" diperdengarkan.
Hari Pertama Menjadi Ibu
Menjadi ibu memang tidak mudah, apalagi menjadi seorang ibu tunggal seperti Meryl Streep di film itu. Penuh dengan perjuangan fisik dan mental. Aku pun seorang ibu yang juga merasakan perjuangan itu. Tapi aku bukan ibu tunggal, satu yang sama dengan film diatas adalah sama - sama hanya memiliki satu anak yang juga perempuan.
Aku terlahir menjadi anak perempuan satu - satu nya
di keluarga, aku tidak pernah merasakan bagaimana mempunyai saudara perempuan.
Maka ketika akhirnya aku memiliki seorang anak perempuan, itu merupakan suatu
hal yang luar biasa. Aku merasakan sebuah pengalaman yang sangat baru. Aku
memiliki seseorang yang sama dengan ku secara fisik dan emosional. Seseorang
yang rasanya bisa bersama - sama melalui semua fase menjadi seorang perempuan.
Semua pengharapan jaman dulu rasanya terpenuhi sudah, seperti lubang yang
terisi penuh kembali.
Sejak dia lahir, aku berjanji pada diri sendiri
untuk menjadi "Suporter terbesarnya". Menemani dia disetiap masa
tumbuh kembangnya, berbagi semua cerita dengan nya. Tepat pada saat dia berumur
1 tahun, aku memutuskan untuk berhenti dari pekerjaanku yang pada saat itu
sedang berada di posisi baik. Hanya untuk menemani dia di masa kecilnya.
Antara "Menjadi Aku" dan "Waktu" Sang Pencuri
Aku sadar bahwa "Waktu" itu adalah
pencuri, kita sebagai orang tua tidak akan punya banyak waktu bersama dengan
anak kita. Seperti film "Mama Mia" itu, tanpa terasa waktu berjalan
dan dia sudah memiliki pilihan dan kehidupan nya sendiri tanpa harus melibatkan
kita sebagai orang tua. Pada saat itu, berhenti kerja adalah pilihan yang
terbaik menurut ku, dan bukan sebuah pengorbanan. Aku tidak berkorban untuk
dia, aku memilih untuk memberikan yang terbaik dari diriku untuk anak ku satu -
satunya dan karena mudah saja, aku tidak ingin menjadi korban dari
"Waktu" si pencuri.
Mengambil peran sebagai ibu "Full Time"
adalah sebuah pekerjaan yang besar. Kita harus menjadi pemberi kasih sayang dan
pendukung emosional secara penuh, menjadi pengasuh dan pelindung, pendidik dan
pembimbing, panutan dan inspirasi, motivator dan penyemangat, perawat secara
fisik dan mental, tentu saja menjadi pendengar yang baik.
Apakah ini terdengar masuk akal? coba saja googling tentang bagaimana peran ibu
bagi anak. Yang keluar adalah semua kalimat diatas. Ini sesungguhnya adalah
pekerjaan banyak orang yang harus dirangkap menjadi satu. Sahabat, Baby Sitter,
Satpam, Guru mapel, Psikolog, Motivator, Perawat dan tentu saja Juru masak dan
kadang - kadang Supir. Jangan lupa tugas sebagai staff Hotline, karena harus
siap 24 jam, 7 hari seminggu.
Melelahkan bukan? setiap ibu pasti tahu ini, namun
semua itu juga memberikan kebahagiaan dan kepuasan yang luar biasa. Setiap ibu
memiliki cara unik dalam menjalankan perannya, dan itu adalah bagian dari
keindahan menjadi seorang ibu.
Kondisi diatas itu pada akhirnya menumbuhkan ikatan
yang cukup kuat antara aku dengan anak ku. Meningkatkan perasaan dibutuhkan dan
membutuhkan. Mencintai tanpa sarat, memang demikianlah seharusnya. Semua teori
pengasuhan akan berkata seperti itu. Aku sudah berada dijalan yang benar.
Keinginan Memiliki by Default
Namun yang tidak kusadari adalah perasaan memiliki yang kemudian tumbuh semakin besar. Aku merasakan perasaan dominasi yang mengintip setiap waktu. Ketika anak ku mengatakan tidak pada hal - hal yang aku anggap benar, aku merasa itu adalah sebuah hal yang tidak patut. Ketika dia memilih sesuatu yang lain dari yang aku pilih, aku melihatnya sebagai suatu pembangkangan. Meskipun pada akhirnya aku menyadari bahwa pilhannya itu di dasari pada hal yang benar.
Beberapa waktu lalu, aku sempat terperangkap dalam
kondisi ini. Apalagi ketika dia semakin dewasa, berinteraksi dengan banyak
tetman - teman nya dari latar belakang yang berbeda. Selayaknya remaja yang
katanya pemberontak, fase ketidak cocokan antara aku dan anak ku pun sama
terjadi pada masanya. Kemudian aku berpikir, mungkin bukan dia yang memberontak,
mungkin dia hanya mencoba menjadi diri nya sendiri sementara aku masih
melihatnya sebagai "milik ku". yang seharusnya tidak boleh terjadi.
Ibu adalah "Human Creator"
Kembali berkaca pada film inspirasiku "Mama
Mia", aku mengerti bahwa ada satu peran penting lagi sebagai ibu yang
harusnya disadari dari awal. Yaitu kreator, pencipta. Kita “menciptakan” anak
kita sesuai dengan imagi yang kita inginkan, sesuai teori - teori yang kita
pelajari baik di bangku sekolah maupun pengalaman.
Kadang - kadang hasil ciptaan kita adalah hasil
dari usaha kita untuk menghindari kesalahan yang pernah kita buat, berharap menjadi
versi yang lebih baik dari diri kita sebelumnya. Maka kita berusaha membuat itu
sesempurna mungkin sehingga tidak melakukan kesalahan yang sama seperti yang
pernah kita lakukan, secara signifikan.
Tetapi yang harus disadari adalah bahwa pencipta
itu membuat ciptaannya untuk di nikmati orang lain, bukan dimiliki sendiri.
Seperti pelukis yang menciptakan lukisan nya untuk dinikmati orang banyak,
dikagumi bahkan dimiliki oleh para kolektor. Pada konteks agama dan spiritual,
pencipta membiarkan makhluk ciptaan nya bebas menentukan pilihannya sendiri.
Jadi anak kita, yang merupakan "ciptaan" kita, bukan lah untuk kita
miliki.
Waktu Untuk "Melepaskan"
Peran ini menjadi sangat sulit dilakukan karena seperti
seorang pelukis, kita memiliki ikatan emosional yang sangat tinggi dengan
ciptaan kita. Meski kita sadar sesadar - sadarnya bahwa anak kita bukan milik
kita, tapi di level hati atau ikatan bathin membuat kita tidak rela melepasnya.
Ketidak relaan ini pada akhirnya hanya berbuah
kepahitan pada kedua pihak. Padahal satu - satunya jalan untuk lepas dari
kepahitan hidup adalah "Melepaskan". Dengan melepaskan keterikan ini,
kita akan mendapatkan lebih banyak manfaat, baik bagi diri sendiri maupun anak
kita. Dan itu seharusnya akan menghasilkan hal yang baik bagi semua, meskipun
tidak ada yang pasti di dunia ini.
Tahun lalu, aku "memaksakan diri" menjadi
Meryl Streep. Memaksakan diri itu karena sebetulnya sudah tahu tapi tetap belum
seutuhnya rela. Ketika Meryl Streep akhirnya merelakan anak nya untuk menikah
dan pergi jauh bersama suaminya, meninggalkan sang ibu seorang diri di pulau
kecil nya. Aku harus merelakan anakku yang berumur 18 tahun untuk pergi jauh
menuntut ilmu di negeri orang.
Hampir semua ibu yang aku temui bertanya pertanyaan
yang sama, "Kok bisa sih membiarkan anakmu satu - satu nya, perempuan
lagi, sekolah jauh - jauh sekali" bahkan ibu ku sendiri tidak setuju.
Sesungguhnya aku bisa saja mengatakan tidak pada rencana anak ku itu, tapi kembali
lagi pada kesadaran diatas, dia bukan milik ku. Tuhan tidak menciptakan dia
untuk selalu berada disampingku atau Tuhan juga tidak menciptakan dia sebagai
pemuas hatiku yang hanya dengan melihat dia ada disisiku sudah membuat aku
tenang.
Tuhan menciptakan dia, melalui aku, untuk dimiliki
oleh dunia ini. Dia memiliki tugas yang lebih besar dari hanya sekedar menjadi
anak ku. Apakah tugas itu? aku pun tidak tahu, dia yang harus menemukannya
sendiri. Aku hanya tahu tugas ku "Menciptakan" dia sudah selesai.
Aku, Sang Pendoa
Aku sekarang hanya berada dalam bagian terakhir
semboyan Ki Hajar Dewantoro yaitu Tut Wuri Handayani. Hanya sebagai pendoa dan
penjaga "rumah" untuk dia bisa kembali. Ku kembalikan dia kepada
Tuhan yang menciptakan nya, kepada Tuhan yang menitipkannya kepadaku. Karena
hanya dalam penjagaan Nya lah aku percaya bahwa anak ku akan baik - baik saja.
Karena seperti bumerang, ketika kita "melepaskan" maka itu akan
kembali lagi kepada kita dengan lebih baik.
Sama seperti Meryl Streep yang melepas anaknya dengan banyak ketidak tahuan, hanya saja waktuku datang lebih cepat. Aku juga tidak tahu apakah dia akan kembali ke rumah kami, atau tetap berkarya dikejauhan. Aku hanya tahu bahwa aku sudah "melepas" nya karena Dia Bukan Milikku.
Buku Antologi : Hari Pertama Menjadi Ibu, Alineaku Publisher


No comments:
Post a Comment